Dalam semangat mempererat ukhuwah islamiyah dan memperluas wawasan peradaban Islam, sebuah peristiwa bersejarah baru saja berlangsung di kota Bursa, Turki. Dua tokoh akademik tertinggi dari dua institusi Islam berbeda nations — Rector Institut Agama Islam (IAI) Natuna dan Rector Kolej Universiti Islam Antarabangsa Selangor (KUIJSI) Malaysia — secara bersamaan mengunjungi Galeri Aura Islam yang terletak di Bursa Kota.
Kunjungan ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan sebuah langkah strategis untuk memperdalam pemahaman bersama terhadap warisan sejarah dan peradaban Islam yang membentang luas sepanjang abad.
Kota Bursa memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam sejarah peradaban Islam, khususnya di wilayah Anatolia. Bursa merupakan salah satu kota pertama yang digunakan sebagai pusat pemerintahan oleh Kesultanan Utsmaniyah pada masa awalnya, sebelum kemudian pindah ke Edirne dan Konstantinopel (Istanbul). Keberadaan Galeri Aura Islam di kota ini bukan tanpa alasan, melainkan dipilih secara strategis karena kedekatan lokasi dengan berbagai situs bersejarah penting lainnya.
Galeri Aura Islam sendiri dirancang sebagai ruang eksplorasi yang menampilkan dokumentasi lengkap tentang perkembangan civilization Islam, mulai dari era keemasan peradaban pada masa Dinasti Abbasiyah, kontribusi ilmuwan Muslim dalam bidang sains dan kedokteran, hingga penyebaran Islam di berbagai belahan dunia. Setiap koleksi yang dipamerkan di galeri ini dipilih dengan cermat untuk memberikan gambaran utuh tentang betapa luas dan mendalam kontribusi umat Islam terhadap kemajuan peradaban manusia.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran surat Ar-Ra’d ayat 11 yang berbunyi: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” Hal ini mengajarkan bahwa kemajuan suatu peradaban bergantung pada upaya nyata umatnya dalam menggali, memahami, dan menghidupkan kembali warisan sejarahnya.
Keterlibatan langsung Rector IAI Natuna dalam kunjungan ini menunjukkan komitmen serius institusi pendidikan Islam di Indonesia untuk terus memperluas jaringan kolaborasi internasional. Natuna sebagai sebuah wilayah kepulauan di Indonesia memiliki posisi geografis yang strategis, berada di perbatasan maritime antara Indonesia, Malaysia, dan negara-negara ASEAN lainnya. Kehadiran rektornya di Bursa menjadi simbol nyata bahwa institusi Islam Indonesia tidak hanya berkutat pada lingkup lokal, tetapi mulai membangun kehadiran global.
Di sisi lain, Kolej Universiti Islam Antarabangsa Selangor (KUIJSI) Malaysia membawa tradisi akademik Islam yang telah berkembang pesat dalam beberapa dekade terakhir. Malaysia dikenal sebagai salah satu negara dengan sistem pendidikan Islam terstruktur dan modern di Asia Tenggara. Kolaborasi antara kedua institusi ini diharapkan mampu menghasilkan program-program lintas negara yang bermanfaat, mulai dari pertukaran pelajar, penelitian bersama, hingga konferensi internasional tentang sejarah peradaban Islam.
Hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Tirmidzi menyebutkan: “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” Kunjungan akademis ini merupakan implementasi nyata dari perintah menuntut ilmu yang tidak mengenal batas wilayah dan batas negara.
Galeri Aura Islam dirancang bukan sekadar sebagai tempat penyimpanan artefak, melainkan sebagai ruang belajar interaktif yang melibatkan pengunjung secara aktif. Berbeda dengan museum konvensional yang cenderung pasif, Galeri Aura Islam menggunakan pendekatan edukatif yang memungkinkan pengunjung — baik pelajar, akademisi, maupun masyarakat umum — untuk merasakan langsung atmosfer sejarah peradaban Islam melalui berbagai media presentasi modern.
Pengunjung dapat menemukan replika dokumen sejarah penting, peta penyebaran Islam di berbagai benua, tiruan alat-alat ilmiah yang dikembangkan oleh ilmuwan Muslim pada masa lampau, serta instalasi audiovisual yang menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat Islam di berbagai era. Semua ini disusun secara sistematis agar pengunjung mendapatkan pemahaman holistik tentang bagaimana Islam membentuk dan dipengaruhi oleh berbagai peradaban di dunia.
Filsuf Ibnu Khaldun dalam karyanya Muqaddimah pernah mengungkapkan bahwa ilmu pengetahuan dan peradaban memiliki siklus yang saling mempengaruhi. Galeri Aura Islam menjadi bukti nyata bagaimana konsep ini divisualisasikan sehingga dapat dipahami oleh semua kalangan.
Kunjungan yang dilakukan oleh para rektor ini pada hakikatnya merupakan investasi jangka panjang dalam bidang pendidikan. Dengan mengunjungi langsung lokasi-lokasi yang sarat akan nilai sejarah Islam, para pemimpin akademik ini mendapatkan inspirasi baru yang dapat ditularkan kepada civitas akademika dan mahasiswa mereka masing-masing. Pengalaman langsung tersebut jauh lebih powerful dibandingkan membaca dari buku teks semata.
Dalam konteks globalisasi yang semakin kompleks, kemampuan untuk memahami dan menghargai warisan sejarah menjadi modal penting bagi setiap generasi. Generasi muda Muslim di Indonesia dan Malaysia perlu dibekalkan dengan pengetahuan yang kuat tentang sejarah peradaban Islam agar mereka mampu menjawab tantangan zaman tanpa melupakan akar identitas mereka. Kerjasama antar institusi pendidikan Islam seperti yang dilakukan oleh IAI Natuna dan KUIJSI Malaysia menjadi model yang sangat positif untuk direplikasi oleh institusi-institusi lainnya.
Semoga langkah kecil ini dapat menjadi awal dari gerakan besar untuk membangun kesadaran sejarah yang lebih mendalam di kalangan umat Islam, sehingga setiap generasi memiliki kecintaan dan kebanggaan terhadap warisan peradaban yang telah ditinggalkan oleh para pendahulu mereka. Amin.