Sejarah peradaban Islam di Nusantara tidak lepas dari peran para ulama yang tidak hanya mengajar ilmu agama, tetapi juga menjadi penjaga martabat bangsa. Di antara nama-nama besar yang terukir emas, sosok Syekh Yusuf Al-Makassari bersinar sebagai simbol keteguhan hati dan kecerdasan diplomatik. Beliau lahir di Gowa, Sulawesi Selatan, pada tahun 1626 dan menutup usia di Cape Town, Afrika Selatan, pada tahun 1699. Hidupnya adalah mosaik perjuangan fisik dan spiritual yang melintasi benua.
Kehadiran acara “Temu Narasi Syekh Yusuf Al-Makassari” di Banjarbaru baru-baru ini membangkitkan semangat baru untuk menggali lebih dalam warisan intelektual dan spiritual beliau. Momen ini mengingatkan kita bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan kompas arah untuk generasi kini. Mari kita telusuri jejak sang ‘Syeikh al-Kabir’ yang menjadikan ilmu sebagai senjata dan iman sebagai tameng.
Syekh Yusuf lahir dengan nama Muhammad Yusuf dalam keluarga bangsawan Kerajaan Gowa. Ayahnya, Pangeran Abdullah, adalah putra Sultan Alauddin, sedangkan ibunya, Nyai Aminah, berasal dari keturunan Bangsa Johor. Garis keturunan mulia ini memberinya akses pendidikan terbaik sejak dini. Beliau menghafal Al-Qur’an di usia yang sangat muda dan mempelajari ilmu syariat, tasawuf, serta bahasa Arab di bawah bimbingan ulama-ulama terkemuka di Makassar.
Semangat mencari ilmu membawanya ke Mekkah pada usia 18 tahun, sebuah perjalanan yang membutuhkan bulan-bulan melalui lautan. Di Tanah Suci, beliau belajar dari para master tasawuf dan fiqh besar seperti Syeikh Ahmad al-Qusyasyi dan Syeikh Ibrahim al-Kurani. Beliau mendalami tarekat Khalwatiyah dan Naqsyabandiyah, dua aliran tasawuf yang sangat berpengaruh di Nusantara. Fondasi spiritual ini kemudian menjadi bekal utama beliau dalam menghadapi cobaan kolonialisme di kemudian hari.
Kembalinya ke Nusantara menandai dimulainya peran aktif beliau sebagai pengajar dan penasehat spiritual. Beliau mendirikan pesantren (surau) di Banten yang sangat terkenal, menarik santri dari berbagai penjuru. Di sinilah beliau menulis karyanya yang monumental, Zubdatu al-Asrar (Inti Rahasia), sebuah kitab tasawuf yang menjadi referensi utama hingga kini. Karya ini membuktikan kedalaman pemikiran intelektualnya yang menyeimbangkan syariat, tariqat, dan hakikat.
Masa kejayaan Kerajaan Banten di bawah Sultan Ageng Tirtayasa bertepatan dengan eskalasi tekanan dari Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Syekh Yusuf, sebagai putra mahkota Gowa yang menikahi putri Sultan Banten, turut serta dalam diplomasi dan strategi pertahanan. Beliau tidak diam menonton upaya VOC memonopoli perdagangan rempah-rempah dan menguasai jalur maritim strategis Selat Sunda.
Perlawanan bersenjata pecah pada tahun 1680-an ketika putra Sultan Ageng, Pangeran Haji, berpihak ke VOC. Syekh Yusuf memimpin pasukan guerilla dari Gunung Gede dan sekitarnya, melakukan serangan-sertaan yang meresahkan kompeni. Beliau memanfaatkan ilmu taktik perang dan semangat jihad fisik (qital) yang didasarkan pada keyakinan bahwa menentang zalim adalah bentuk ibadah. Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa: 75, “Dan mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah, dan (menentang) orang-orang yang lemah di antara laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang berdoa: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang penduduknya zalim, dan berikanlah kepada kami dari sisi-Mu pelindung, dan berikanlah kepada kami dari sisi-Mu penolong’.” Ayat ini menjadi landasan moral bagi perjuangannya.
Namun, ketidakseimbangan kekuatan militer memaksa beliau mundur ke wilayah yang lebih sulit dijangkau. Terjadilah pengkhianatan dari salah satu pengikutnya yang mengkhianati tempat persembunyiannya. Pada tahun 1684, Syekh Yusuf ditangkap oleh pasukan VOC bersama keluarga dan para muridnya. Penangkapan ini menandai berakhirnya perlawanan terbuka di Banten, namun memulai babak baru perjuangan di tanah perantauan.
VOC mengasingkan Syekh Yusuf ke Sri Lanka (Ceylon) terlebih dahulu, dengan harapan kejauhan akan memadamkan pengaruhnya. Kesalahan besar bagi kolonialis, justru di Sri Lanka beliau semakin intens mengajar dan menulis. Banyak orang Sri Lanka yang masuk Islam dan bergabung di tarekatnya. Ketika VOC menyadari pengaruhnya tetap besar, mereka memutuskan memindahkannya ke tempat yang lebih terpencil: Kaap de Goede Hoop (Cape Town), Afrika Selatan, pada tahun 1694.
Di Cape Town, Syekh Yusuf disambut sebagai tamu hormat oleh Gubernur Simon van der Stel, namun sebenarnya diawasi ketat. Beliau ditempatkan di Zandvliet, sebuah petanian di tepi kota. Di sinilah sejarah mencatat keajaiban: tanah yang gersang itu berubah menjadi pusat penyebaran Islam di Afrika Selatan. Beliau mengajar ilmu tauhid, fiqh, dan tasawuf kepada hamba-hamba yang dibawa dari Asia, orang Melayu, serta pribumi Khoisan. Beliau mengajarkan mereka martabat kemanusiaan dan kebebasan spiritual yang tidak bisa dibeli penjajah.
Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” (HR. Ath-Thabrani). Hadis ini terwujud nyata dalam kehidupan Syekh Yusuf di Afrika Selatan. Beliau tidak hanya mengajar ritual ibadah, tetapi membangun komunitas yang mandiri, penuh kasih sayang, dan tabah. Karomah-karomah yang dikaitkan dengan beliau, seperti air sumur yang tidak pernah kering dan doa yang mustajab, memperkuat keyakinan jamaahnya. Beliau wafat pada 23 Mei 1699 dan dimakamkan di Zandvliet, yang kini menjadi makam ziarah (kramat) terkenal dan menjadi simbol kehadiran Islam pertama di benua hitam.
Karyanya yang paling terkenal, Zubdatu al-Asrar, tetap menjadi rujukan utama dalam kajian tasawuf Sunni di Nusantara hingga saat ini. Kitab yang ditulis dalam bahasa Melayu dengan gaya puitis dan mendalam ini mengajak pembaca untuk membersihkan hati dari penyakit syirik, ria, dan hasad. Beliau menekankan bahwa tasawuf bukan melarikan diri dari dunia, melainkan menghadirkan Allah dalam setiap aktivitas duniawi. Konsep “hudhur al-qalb” (kehadiran hati) yang beliau ajarkan sangat relevan di era modern yang penuh distraksi digital.
Lebih dari sekadar tokoh sejarah, Syekh Yusuf menjadi teladan integritas intelektual. Beliau membuktikan bahwa seorang ulama bisa menjadi ahli strategi militer, diplomat handal, penyair sufistik, dan pembangun peradaban sekaligus. Semangat anti kolonialismenya bukan semata-mata nasionalisme sempit, melainkan upaya menegakkan keadilan dan menolak penindasan, sebagaimana perintah Allah dalam QS. An-Nahl: 90, “Sesungguhnya Allah menyuruh berbuat adil dan berbuat baik, memberi kepada kerabat, dan melarang dari keji, kejahatan, dan permusuhan. Dia mengajarkan kamu agar kamu mengambil pelajaran.”
Di era kontemporer, jejak beliau diwariskan melalui nama bandara internasional Sultan Hasanuddin (Makassar) yang sering dikaitkan dengan era keemasaan Gowa, serta Bandara Syekh Yusuf (sering disebut bandara Ternate atau bandara lain yang memakai namanya di berbagai daerah). Lebih penting lagi, ribuan santri di pesantren modern dan tradisional masih mengamalkan wirid dan doa-doa dari kitab-kitabnya. Acara “Temu Narasi” di Banjarbaru adalah bukti nyata bahwa narasi perjuangan beliau masih relevan untuk membangun karakter bangsa yang berani, cerdas, dan beriman.
Mengenal Syekh Yusuf Al-Makassari berarti mengenal akar kekuatan bangsa ini. Beliau adalah bukti nyata bahwa Islam Nusantara lahir bukan dari kekosongan, melainkan dari perpaduan harmonis antara iman yang kokoh, intelektual yang tajam, dan keberanian yang tidak kenal takut. Kisah pengasingannya yang berubah menjadi kemenangan dakwah di Afrika Selatan mengajarkan kita bahwa setiap cobaan (bala) selalu menyertakan kemudahan dan hikmah tersendiri bagi orang-orang yang bertawakal.
Sebagai generasi penerus, tugas kita bukan sekadar mengagungkan nama beliau di piring sejarah, tetapi mengamalkan valuenya: mencari ilmu seumur hidup, menentang segala bentuk ketidakadilan, dan membangun komunitas yang saling mengasihi. Mari kita jadikan jejak kaki Syekh Yusuf dari Makassar ke Mekkah, Banten, Sri Lanka, hingga Cape Town sebagai peta hati dalam menavigasi tantangan zaman. Wallahu a’lam bish-shawab.