Sejarah kedatangan Islam ke Nusantara tidak bisa dilepaskan dari nama satu kerajaan legendaris: Samudra Pasai. Kerajaan ini hadir bukan sekadar sebagai entitas politik, melainkan sebagai pusat peradaban yang mengubah lanskap budaya, hukum, dan perdagangan di wilayah ini. Keberadaannya menandai awal dari transformasi besar bagi masyarakat Nusantara yang selama ini menganut kepercayaan animisme, Hindu, dan Buddha. Sebagai gerbang timur dunia Islam, Pasai menjadi bukti nyata bagaimana agama ini diterima dengan damai melalui jalur perdagangan dan dakwah yang bijaksana.
Kebangkitan minat akan sejarah ini semakin hangat belakangan, terlebih setelah sejumlah akademisi muda berhasil mengkaji ulang manuskrip dan bukti arkeologi dengan pendekatan metodologi modern. Penelitian mendalam tentang dinasti ini membuka wawasan baru bahwa Islam Nusantara memiliki akar yang kokoh dan khas, berbeda dari pusat keagamaan di Timur Tengah. Memahami jejak sejarah ini berarti memahami identitas kita sebagai bangsa yang pluralis namun berlandaskan nilai-nilai tauhid. Mari kita telusuri lebih dalam bagaimana kerajaan kecil di ujung Sumatera Utara ini bisa menjadi mercusuar peradaban Islam di wilayah kita.
Kerajaan Samudra Pasai bermula dari dua wilayah yang kemudian bersatu: Samudra (Kuala Pasai) dan Pasai (Pasai Lama). Secara geografis, posisinya yang strategis di perairan Selat Malaka menjadikannya pelabuhan transit utama para pedagang dari Gujarat, Bengal, Persia, hingga Tiongkok. Keberadaan komunitas asing ini menciptakan lingkungan kosmopolitan yang memudahkan penyebaran ajaran Islam sejak abad ke-13 Masehi. Para ulama dan pedagang Muslim tidak hanya berdagang, tetapi juga mencontohkan akhlak mulia yang menarik simpati masyarakat setempat.
Salah satu bukti kekuatan politik dan keagamaan Pasai adalah pengadopsian gelar “Sultan” oleh penguasa pertama, Malik al-Saleh (sebelumnya bernama Merah Silu). Ia secara resmi memeluk Islam dan mendirikan kerajaan Islam pertama di Nusantara sekitar tahun 1267 M atau 665 H. Langkah ini sangat berani karena memerlukan legitimasi bukan hanya dari leluhur, tetapi juga dari hukum syariat yang dibawa para ulama. Transisi kekuasaan ini terjadi relatif damai, menandakan kematangan masyarakat dalam menerima perubahan sistem nilai baru.
Kemakmuran Pasai puncaknya terjadi pada masa Sultan Malik al-Zahir (Johan Berdaulat) dan Sultan Ahmad Malik az-Zahir. Di masa ini, Pasai mencetak uang logam sendiri (dirham dan perak), memiliki armada laut yang kuat, dan menjadi pusat pengadilan hukum Islam (Mahkamah Syariat) yang merujuk pada Mazhab Syafi’i. Kota ini ramai dikunjungi para ulama dari Hadramaut, India, dan Mesir untuk belajar dan mengajar. Sejarah mencatat bahwa Ibn Battutah, musafir terkenal dari Maroko, pernah singgah di Pasai sekitar tahun 1345 M dan mencatat keindahan kota serta ketatnya penerapan hukum Islam di sana.
Keunikan Samudra Pasai terletak pada sistem tata kelola yang menggabungkan adat istiadat setempat dengan hukum Islam. Para ulama memegang peran vital bukan hanya di masjid, tetapi juga di istana sebagai penasihat sultan (Kadi Malik al-Adil). Lembaga Mahkamat al-Mazalim atau Pengadilan Keadilan berfungsi mengadili perkara pidana dan perdata berdasarkan Al-Quran dan Hadis. Hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya bersifat ritualistik, tetapi menjadi landasan hukum konstitusional negara. Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 58 yang artinya: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu untuk menyampaikan amanah kepada orang yang berhak menerimanya dan (memerintahkan) agar apabila kamu menghukum di antara manusia, kamu menghukum dengan adil.” Ayat ini menjadi landasan filosofis pengadilan di Pasai.
Di bidang pendidikan, Pasai dikenal memiliki madrasah-madrasah yang mengajar ilmu tafsir, hadis, fiqih, nahwu, sharaf, dan tasawuf. Metode pengajaran menggunakan kitab-kitab klasik (kitab kuning) dengan bahasa Arab dan Melayu (Jawi). Para santri (pelajar) tidak hanya datang dari Nusantara, tetapi juga dari Patani, Champa, dan Brunei. Jaringan alumni ini kemudian menjadi agen penyebaran Islam ke wilayah lain seperti Malaka, Demak, dan Ternate. Warisan intelektual ini terbukti dari temuan batu nisan (plang) beraksara Arab-Melayu yang tersebar di kompleks makam para sultan dan ulama di Pasai Lama hingga kini.
Kehidupan sosial di Pasai juga tercermin dari toleransi antarumat beragama. Meskipun negara berbasis Islam, komunitas Tionghoa, India, dan orang-orang asli yang belum Muslim hidup berdampingan damai di bawah naungan hukum sultan. Pedagang non-Muslim bebas beribadah dan berdagang asalkan mematuhi peraturan umum dan membayar pajak (kharaj/jizyah). Model pluralisme ini sangat relevan dengan semangat ayat Al-Quran Surah Al-Hujurat ayat 13: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan berpuak-puak agar kamu saling mengenal.” Pasai membuktikan bahwa keberagaman adalah sunnatullah yang harus dikelola dengan hikmah.
Salah satu warisan paling berkelanjutan dari Samudra Pasai adalah pengembangan Aksara Jawi (Arab-Melayu). Untuk memudahkan dakwah dan administrasi, para ulama mengadaptasi huruf Arab untuk menuliskan bahasa Melayu. Inovasi ini melahirkan tradisi sastra Islam Melayu yang kaya, seperti hikayat, syair, dan gurindam. Karya-karya seperti “Hikayat Raja-Raja Pasai” menjadi sumber sejarah primer yang tak ternilai harganya. Melalui aksara ini, ilmu agama bisa diakses oleh lapisan masyarakat yang tidak fasih berbahasa Arab, mendemokratisasi pengetahuan agama.
Di bidang arsitektur, masjid-masjid kuno di Pasai menunjukkan perpaduan gaya lokal (atap tajuk/limas) dengan ornamen caligrafi Arab dan geometris khas Islam. Batu nisan para sultan berbentuk prismasegi empat dengan puncak runcing, dihiasi kaligrafi Ayat Kursi, Asmaul Husna, dan doa-doa untuk almarhum. Estetika ini kemudian meniru dan dikembangkan oleh kerajaan-kerajaan Islam lain di Nusantara, seperti Demak, Cirebon, dan Banten. Masjid Agung Demak misalnya, memiliki kemiripan konsep ruang serba guna (untuk ibadah, deliberasi, dan pengadilan) seperti yang pernah ada di Pasai.
Warisan kuliner dan adat istiadat pun ikut terbawa. Tradisi kenduri atau sedekah makanan pada hari-hari besar Islam (Maulid, Isra Mi’raj, Nisfu Sya’ban) diyakini bermula dari tradisi Pasai yang mengedepankan silaturahmi dan kebersamaan. Konsep “Islam Nusantara” yang ramah, toleran, dan berkemajuan ini memiliki akar sejarah yang kuat dari praktik para pendahulu di Pasai. Menjaga warisan ini berarti menjaga identitas kita sebagai umat yang beradab dan berperadaban.
Seperti sunnatullah bagi setiap peradaban, Samudra Pasai pun mengalami masa kemunduran. Serangan pasukan Portugis di bawah pimpinan Jorge de Albuquerque pada tahun 1521 M menjadi pukulan berat. Portugis yang ingin menguasai jalur rempah-rempah menyerbu kota, membakar masjid, perpustakaan, dan istana. Sultan Mahmud Shah (Alauddin) melarikan ke pedalaman dan kemudian mendirikan kerajaan baru di Aceh (Kerajaan Aceh Darussalam) yang mewarisi legitimasi dan warisan intelektual Pasai. Kehancuran fisik kota tidak berarti kehancuran semangat peradaban; justru bijihnya dibawa ke Aceh dan tersebar ke pulau Jawa.
Pelajaran berharga dari siklus ke bangkitan dan kejatuhan ini adalah pentingnya ketahanan pertahanan (sipil dan militer) serta kesatuan umat. Ketika kesatuan pecah akibat perebutan takhta dan intervensi asing, gerbang peradaban pun runtuh. Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kamu saling membenci, janganlah saling mengutuk, janganlah saling memutus hubungan, dan hendaklah kamu menjadi hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari). Nasihat ini sangat relevan jika dikaitkan dengan kehilangan momentum Pasai akibat fitnah internal. Generasi kini harus belajar bahwa kemajuan peradaban membutuhkan kekuatan iman, ilmu, dan persatuan yang utuh.
Arkeologi modern kini terus mengungkap situs-situs baru di wilayah Pasai (Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara). Pemerintah dan masyarakat diharapkan mampu melestarikan situs ini sebagai laboratorium sejarah hidup, bukan sekadar objek wisata. Pendidikan sejarah yang berbasis bukti empiris (batu nisan, uang logam, keramik impor, manuskrip) akan membangun rasa bangga yang sehat pada identitas Islam Nusantara. Sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan kompas untuk menghadapi masa depan.
Menelusuri sejarah Samudra Pasai adalah perjalanan spiritual dan intelektual yang mengingatkan kita betapa luar biasa para pendahulu menanamkan akar Islam di tanah ini. Dari pelabuhan pesisir yang hiruk pikuk pedagang, lahir sebuah peradaban yang menghasilkan hukum, pendidikan, sastra, dan arsitektur yang autentik Nusantara. Jejak-jejak mereka di batu nisan, manuskrip Jawi, dan cerita lisan masyarakat Aceh hingga kini masih berbisik mengajak kita untuk tidak melupakan asal-usul.
Sebagai generasi penerus, tugas kita bukan sekadar mengingat, melainkan mengamalkan nilai-nilai yang mereka wariskan: keadilan, toleransi, cinta ilmu, dan persatuan. Semoga kisah Samudra Pasai menjadi inspirasi bagi kita semua untuk membangun peradaban Islam Indonesia yang lebih gemilang, adil, dan bermartabat. Wallahu a’lam bish-shawab.