Masjid Quba memiliki tempat istimewa dalam hati setiap Muslim di seluruh dunia. Sebagai masjid pertama yang didirikan oleh Rasulullah SAW saat hijrah ke Madinah, bangunan ini bukan sekadar tempat ibadah fisik, melainkan simbol fundamental pembentukan peradaban Islam. Kehadirannya menandai awal terwujudnya komunitas Muslim (Ummah) yang kokoh, bersatu, dan berlandaskan taqwa kepada Allah SWT.
Lebih dari sekadar sejarah batu dan tiang, Masjid Quba menyimpan keutamaan ibadah yang sangat masyhur di kalangan para ulama dan jamaah haji/umrah. Bagi para peziarah yang tiba di Madinah, mengunjungi masjid ini menjadi ritual spiritual yang sangat dianjurkan. Mari kita bedah lebih dalam mengenai sejarah, dalil, serta tata cara memperoleh keutamaan ibadah di tempat suci ini.
Sejarah Masjid Quba dimulai pada hari Senin, 12 Rabiul Awal tahun 1 Hijriah, ketika Rasulullah SAW tiba di wilayah Quba selama perjalanan hijrah dari Mekkah ke Madinah. Beliau bersemayam di sana selama empat belas hari menunggu kedatangan Ali bin Abi Thalib serta mempersiapkan masuk ke Madinah. Di sinilah tiang-tiang pertama masjid ditancapkan oleh tangan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat, menegakkan kalimat “Laa ilaha illallah” sebagai pondasi kehidupan.
Al-Quran secara eksplisit memuji keutamaan masjid ini dalam Surah At-Taubah ayat 108: “Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar taqwa sejak hari pertama lebih berhak untuk kamu shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang suka menyucikan diri; dan Allah mencintai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. At-Taubah: 108). Ayat ini menegaskan bahwa Masjid Quba dibangun atas niat murni dan ketakwaan, bukan untuk kepentingan duniawi atau riya.
Kondisi fisik masjid pada masa awal sangat sederhana, berbentuk persegi dengan dinding dari tanah liat dan atap dari ranting kurma. Namun, kesederhanaan arsitektur justru menguatkan makna spiritual: kebesaran ibadah tidak ditentukan oleh kemegahan bangunan, tetapi oleh kesucian niat dan ketulusan hati para pembangunnya. Seiring waktu, masjid ini mengalami perluasan berkali-kali mulai dari era Khulafaur Rasyidin, Dinasti Umayyah, Abbasiyah, hingga era Kerajaan Arab Saudi saat ini.
Keutamaan paling masyhur dari Masjid Quba terkandung dalam hadis riwayat Imam Ahmad, An-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Al-Hakim dari Sahl bin Hunaif RA. Beliau berkata: “Rasulullah SAW bersabda: ‘Siapa yang bersuci di rumahnya, lalu datang ke Masjid Quba dan shalat di dalamnya, maka baginya pahala seperti ibadah umrah.'” Hadis ini dinilai hasan shahih oleh para muhadditsin seperti Al-Albani, sehingga menjadi landasan kuat bagi anjuran mengunjungi masjid ini.
Makna “senilai umrah” di sini tidak bermakna menggantikan rukun umrah (ihram, thawaf, sa’i, tahallul) bagi yang berniat menunaikan ibadah umrah syar’i. Para ulama menafsirkan ini sebagai pahala (ajr) yang setara dengan umrah tamattu’ atau umrah mufradah bagi orang yang tidak sedang dalam kondisi ihram. Ini adalah karunia Allah SWT yang luar biasa, di mana shalat sunnah atau fardhu di masjid tertentu diberi pahala ibadah besar yang biasanya memerlukan biaya, waktu, dan usaha fisik yang sangat besar.
Di samping hadis di atas, terdapat juga riwayat dari Abdullah bin Umar RA bahwa Nabi SAW biasa datang ke Masjid Quba setiap hari Sabtu, baik naik unta maupun berjalan kaki, lalu shalat di dalamnya dua rakaat. (HR. Bukhari dan Muslim). Kebiasaan ini menunjukkan betapa besar perhatian Rasulullah SAW terhadap masjid ini, menjadikannya sunnah muakkad yang dianjurkan untuk diteladani oleh umatnya hingga akhir zaman.
Untuk mendapatkan keutamaan sebagaimana dijanjikan hadis, para ulama menyarankan prosedur yang teratur. Pertama, bersuci (wudhu) di rumah atau tempat menginap sebelum berangkat. Hal ini sesuai dengan lafaz hadis “man tathahhara fi baitihi” (siapa yang bersuci di rumahnya). Kedua, niatkan shalat sunnah tahiyatul masjid dua rakaat atau shalat fardhu jika waktunya sudah masuk, serta shalat sunnah rawatib atau witir sesuai kebutuhan.
Ketika tiba di area masjid, dianjurkan masuk dengan kaki kanan sambil membaca doa masuk masjid: “Allahummaftah li abwaba rahmatik”. Lakukan tahiyatul masjid dua rakaat sebagai hormat kepada masjid. Setelahnya, bisa dilanjutkan dengan shalat fardhu jika berjamaah, atau menunaikan shalat sunnah seperti dhuha (jika waktu sudah masuk), tahajjud, atau sekadar berdzikir dan membaca Al-Quran di area masjid yang penuh keberkahan.
Etika yang harus dijaga termasuk menjaga kebersihan, tidak berbisik atau mengganggu jamaah lain, menutup awrat dengan sempurna, dan menghindari foto-foto berlebihan yang mengurangi khusyuk. Ingatlah bahwa tujuan utama adalah mencari rida Allah, bukan sekadar wisata sejarah. Bagi wanita, meskipun keutamaan hadis umum, namun mengingat kondisi zona wanita yang terpisah dan keramaian, dianjurkan menunaikan shalat di tempat menginap jika memungkinkan, kecuali jika benar-benar ingin menikmati keutamaan hadis tersebut dengan syarat menjaga kehormatan dan ketertiban.
Mengunjungi Masjid Quba bukan sekadar mengejar pahala “senilai umrah” secara transaksional, melainkan perjalanan spiritual untuk menelusuri jejak langkah Rasulullah SAW. Berdiri di atas lantai masjid tempat Nabi menempatkan lututnya untuk sujud, mengingat bagaimana beliau dan sahabat-sahabat membangun peradaban dari nol, menumbuhkan rasa syukur dan motivasi untuk memperbaiki kualitas iman pribadi.
Masjid ini juga mengajarkan kita tentang semangat gotong royong (ta’awun). Dahulu, Nabi SAW sendiri mengangkut batu dan tanah bersama sahabat, menunjukkan bahwa pemimpin sejati tidak hanya memerintahkan, tetapi turut berpartisipasi fisik. Nilai-nilai kerendahan hati, kerja keras, dan kesatuan inilah yang seharusnya dibawa pulang oleh setiap peziarah ke kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun tempat kerja.
Allah SWT berfirman: “Dan barangsiapa yang meninggalkan rumahnya dengan jalan hijrah di jalan Allah, dia akan mendapat di bumi ini tempat pindah yang banyak dan kelapangan. Dan barangsiapa yang keluar dari rumahnya dengan menghijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian maut menimpa dia, maka pasti telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 100). Kunjungan ke Masjid Quba mengingatkan kita pada semangat hijrah: meninggalkan keburukan, menghijrah kebaikan, dan membangun masa depan yang lebih baik.
Masjid Quba berdiri tegak hingga kini sebagai bukti nyata bahwa fondasi yang dibangun atas taqwa tidak akan pernah goyah. Keutamaan shalat di dalamnya yang senilai umrah adalah pintu rahmat Allah yang terbuka lebar bagi siapa pun yang mendatangi dengan niat tulus dan hati yang khusyuk. Lebih dari sekadar mengumpulkan pahala, kunjungan ini seharusnya menjadi momentum introspeksi: apakah masjid-masjid di lingkungan kita sudah berfungsi sebagai pusat kegiatan keagamaan, sosial, dan peradaban sebagaimana Masjid Quba dahulu?
Semoga Allah SWT memudahkan kita semua untuk selalu menghayati sunnah Nabi, memperkazi masjid-masjid-Nya, dan diberi kesempatan untuk shalat di Masjid Quba dengan khusyuk dan penuh harap pada ridha-Nya. Aamiin ya rabbal ‘alamin.