Persatuan merupakan pondasi utama bagi tegaknya sebuah bangsa dan ummat. Dalam konteks kebangsaan Indonesia, keberagaman yang menjadi kekuatan justru memerlukan penjagaan ekstra agar tidak menjadi sumber perpecahan. Dakwah persatuan menjadi salah satu instrumen penting yang telah diwariskan oleh para ulama dan Habib sejak dulu kala, berperan nyata dalam menyatukan perbedaan di tengah-tengah masyarakat yang majemuk.
Salah satu bentuk nyata dakwah persatuan dapat kita saksikan melalui kunjungan dan muhadharah (majelis ilmu) yang dilakukan oleh para Habib di berbagai daerah. Majelis ilmu tersebut tidak hanya membahas aspek-aspek keilmuan agama semata, melainkan juga mengajarkan nilai-nilai toleransi, saling menghormati, dan kebersamaan dalam keberagaman. Melalui jalur-jalur inilah, semangat persatuan disemaikan secara langsung kepada masyarakat.
Al-Quran telah menegaskan tentang pentingnya persatuan ummat manusia, khususnya bagi pemeluk agama yang sama. Dalam Surah Al-Hujurat ayat 13, Allah SWT berfirman:
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu bangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Ayat ini menjadi landasan fundamental bahwa perbedaan suku, bangsa, dan budaya bukanlah alasan untuk terpecah belah. Justru perbedaan tersebut merupakan sarana untuk saling познакомиться (saling mengenal) dan membangun kerja sama. Dakwah persatuan yang sejati adalah dakwah yang mampu menyatukan hati di tengah perbedaan, bukan yang mempertegas batas-batas pemisah.
Nabi Muhammad SAW juga telah memberikan peringatan keras melalui sabdanya yang diriwayatkan dalam hadis Bukhari dan Muslim:
“Perumpamaan orang mukmin dalam hal saling mencintai, saling mengasihi, dan saling同情 (menyedihkan) bagaikan satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh merasakan sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.”
Hadis shahih ini menggambarkan dengan sangat indah bahwa setiap Muslim adalah bagian dari satu kesatuan. Ketika satu bagian merasakan penderitaan, maka seluruh bagian harus merasakan dan berusaha membantu. Semangat ini seharusnya menjadi panduan utama dalam setiap aktivitas dakwah.
Para ulama dan Habib memiliki peran strategis yang tidak dapat digantikan oleh pihak lain dalam menjaga persatuan. Kedekatan mereka dengan masyarakat di tingkat grassroots menjadikan mereka mampu menjangkau hati nurani umat secara langsung. Ketika terjadi gesekan-gesekan sosial atau perbedaan pandangan, kehadiran mereka sering kali menjadi penengah yang efektif dan dihormati oleh semua pihak.
Kajian-kajian yang disampaikan dalam majelis ilmu sering kali menekankan bahwa perbedaan pendapat dalam masalah cabang (furu’) agama adalah hal yang lumrah dan tidak boleh menjadi sumber perpecahan. Para ulama mengajarkan bahwa medan perang yang sesungguhnya adalah melawan kebodohan, kemaksiatan, dan kezaliman, bukan melawan sesama Muslim yang memiliki perbedaan pandangan dalam masalah-masalah sekunder.
Tradisi pengajian dan majelis ilmu yang melibatkan lintas ormas Islam juga menjadi salah satu upaya konkret dalam membangun persatuan. Dalam forum-forum tersebut, para ulama dari berbagai latar belakang bersatu untuk menyampaikan pesan-pesan kebaikan dan menekankan bahwa ukhuwah Islamiyah harus dijaga di atas segala perbedaan. Inilah implementasi nyata dari semangat dakwah persatuan yang telah dilakukan sejak generasi pertama umat Islam.
Dakwah persatuan tidak harus selalu dilakukan melalui mimbar-mimbar besar atau kegiatan formal. Sebaliknya, semangat persatuan dapat dan seharusnya diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh setiap Muslim. Memulai dari hal-hal kecil seperti tidak mempermasalahkan perbedaan dalam hal ibadah seperti cara sholat, bacaan, atau ritual lainnya yang merupakan bagian dari keragaman mazhab.
Dalam konteks sosial, dakwah persatuan berarti aktif membangun jembatan komunikasi dengan saudara-saudara seiman yang memiliki latar belakang berbeda. Ini bisa berupa kehadiran dalam acara-acara keagamaan meskipun berbeda denomination, memberikan bantuan tanpa diskriminasi, serta menghindari ujaran kebencian dan provokasi yang dapat memecah belah.
Lebih dari itu, dakwah persatuan juga berarti mendukung program-program yang membawa kebaikan bagi seluruh ummat, tanpa melihat apakah program tersebut berasal dari kelompok yang sama atau berbeda. Karena sejatinya, kebaikan yang dilakukan atas dasar keimanan kepada Allah dan rasa kemanusiaan adalah bagian dari dakwah itu sendiri.
Di era digital seperti sekarang, tantangan terhadap persatuan umat Islam semakin kompleks. Informasi yang spread dengan cepat melalui media sosial kadang justru membawa pesan-pesan yang memecah belah. Narasi-narasi provokatif dan hoaks mudah sekali menyebar dan berpotensi menciptakan perpecahan di antara ummat.
Oleh karena itu, literasi digital menjadi keterampilan yang sangat penting bagi setiap Muslim. Kemampuan untuk membedakan informasi yang valid dari yang tidak, serta kecerdasan untuk tidak menyebarkan konten yang berpotensi memecah belah, merupakan bentuk nyata dari dakwah persatuan di era modern. Para ulama dan pemuka masyarakat pun dituntut untuk hadir di ruang digital dengan memberikan konten-konten yang membangun dan menyatukan.
Di sisi lain, globalisasi membawa arus informasi dan budaya asing yang bisa memengaruhi cara pandang umat Islam. Tantangan ini memerlukan kehati-hatian agar identitas keislaman dan kebangsaan tetap terjaga tanpa harus bertentangan dengan semangat toleransi dan keterbukaan. Dakwah persatuan harus mampu menjawab tantangan ini dengan pendekatan yang bijak dan konprehensif.
Dakwah persatuan dalam Islam adalah sebuah perjuangan yang memerlukan kesabaran dan konsistensi. Ia tidak bisa dilakukan secara instan atau dengan cara-cara yang bersifat konfrontatif. Sebaliknya, dakwah persatuan memerlukan pendekatan yang hikmah, lemah lembut, penuh pengertian, dan surtout didasari oleh keikhlasan semata-mata karena Allah SWT.
Marilah kita renungkan kembali pesan-pesan Al-Quran dan Hadis tentang persatuan, serta mengaplikasikannya dalam setiap aspek kehidupan. Mulai dari lingkungan keluarga, lingkungan sekitar, hingga lingkungan yang lebih luas. Karena pada hakikatnya, kekuatan umat Islam terletak pada persatuan dan kesatuannya, sebagaimana firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 103:
“Dan berpeganglah kamu semua kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, maka Allah menyatukan hatimu, lalu kamu menjadi兄弟姐妹 (bersaudara) karena nikmat Allah itu, dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu darinya. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.”
Semoga kita semua selalu diberikan kemampuan dan keikhlasan untuk terus memperjuangkan persatuan, bukan hanya untuk umat Islam, melainkan untuk seluruh children of the same Creator yang ada di tanah air Indonesia tercinta. Aamiin ya Rabbal Alaamiin.