Perayaan Hari Santri Nasional 2026 menyimpan momentum sejarah yang berarti bagi khazanah keilmuan bangsa. Lembaga Pengkajian dan Penelitian Islam (LPOI) bersama Sasana Santri NU (SASNU) resmi meluncurkan karya monumental berupa 11 jilid buku yang mengupas tuntas sejarah Islam Nusantara. Inisiatif ini bukan sekadar rangkaian upacara simbolis, melainkan langkah strategis untuk mengisi kekosongan narasi sejarah yang selama ini sering terabaikan dalam kurikulum pendidikan formal. Karya ini hadir sebagai jawaban atas tantangan globalisasi yang berpotensi mengikis identitas lokal.
Melalui kolaborasi antar lembaga keagamaan yang berakar kuat pada tradisi pesantren, peluncuran ini menegaskan komitmen umat untuk menjaga keaslian sumber sejarah. Para santri dan akademisi kini memiliki referensi primer yang kredibel untuk memahami dinamika masuk dan berkembangnya Islam di kepulauan ini. Mari kita bedah lebih dalam signifikansi kelahiran karya besar ini bagi generasi mendatang.
Ide penguatan literasi sejarah Islam di Nusantara sebenarnya sudah lama menjadi agenda strategis organisasi keagamaan besar seperti Nahdlatul Ulama (NU). Namun, realisasi berupa 11 jilid buku ini menunjukkan eksekusi yang serius dan terencana dengan matang. LPOI sebagai badan penelitian dan SASNU sebagai wadah regenerasi santri memadukan keahlian akademik dengan semangat kaderisasi. Sinergi ini memastikan bahwa penulisan sejarah tidak hanya bersifat deskriptif, tetapi juga analitis dan kontekstual.
Pemilihan momen Hari Santri 2026 sebagai momentum peluncuran juga sarat makna. Tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri untuk mengingat peristiwa Jihad Resolution Kiai Hasyim Asy’ari tahun 1945, di mana para santri turut mempertahankan kemerdekaan. Meluncurkan buku sejarah di hari yang sama menegaskan bahwa perjuangan fisik para pendahulu harus dilanjutkan dengan perjuangan intelektual: menegakkan kebenaran sejarah. Karya ini menjadi bukti nyata bahwa santri tidak hanya ahli fiqih, tetapi juga penjaga memori kolektif bangsa.
Selama ini, narasi sejarah Indonesia seringkali dipusatkan pada perspektif kolonial atau narasi nasionalistik yang mengabaikan peran agen-agen Islam lokal. Banyak peran ulama, kyai, dan santri dalam menyebarkan Islam secara damai melalui jalur dagang, pendidikan, dan budaya yang terlupakan. Karya 11 jilid ini hadir untuk mengoreksi distorsi tersebut dengan menyajikan bukti-bukti primar seperti manuskrip, naskah kuno, dan tradisi lisan yang terverifikasi. Upaya ini sejalan dengan semangat Al-Quran yang menegaskan pentingnya menelusuri jejak sejarah umat-umat sebelumnya.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Imran (3): 137, “Sungguh, telah berlalu (banyak) sunnah (ketetapan) Allah sebelum kamu, maka berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan.” Ayat ini mengajak umat untuk bersejarah (siir fi al-ardh) bukan sekadar wisata, melainkan untuk mengambil hikmah (ibrah). Dengan mempelajari sejarah Islam Nusantara secara mendalam, generasi muda belajar dari kebijaksanaan para pendahulu dalam mengelola keberagaman, menyelesaikan konflik, dan membangun peradaban yang adil.
Selain itu, penulisan ulang ini krusial untuk melawan narasi radikalisme yang sering memanipulasi sejarah untuk memecah belah. Ketika santri memiliki pemahaman sejarah yang kuat dan berbasis data, mereka menjadi imun terhadap doktrin yang menyesatkan. Buku ini menjadi benteng intelektual sekaligus kompas moral bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Keunggulan karya ini terletak pada metodologi penulisan yang melibatkan kolaborasi lintas generasi dan disiplin ilmu. Para peneliti senior LPOI membawa kedalaman analisis filologi, kodikologi, dan sejarah sosial, sementara generasi muda SASNU berkontribusi pada pengarsipan digital, visualisasi data, dan penyajian bahasa yang lebih mudah dijangkau publik modern. Pendekatan interdisipliner ini memastikan buku tidak hanya terhormat di kalangan akademisi, tetapi juga ramah dibaca oleh santri muda dan pelajar umum.
Proses pengumpulan data melibatkan eksplorasi ke berbagai pusat peradaban Islam seperti Aceh, Demak, Gresik, Cirebon, hingga ke pelosok Nusantara Timur. Tim peneliti menginventarisasi manuskrip yang tersebar di pesantren-pesantren tradisional, keraton, dan perpustakaan pribadi. Ribuan halaman naskah Arab-Melayu, Arab-Jawa, dan Arab-Sunda diterjemahkan, ditranskripsikan, dan dikaji maknanya. Proses painstaking ini membutuhkan waktu bertahun-tahun, membuktikan komitmen serius para penulis untuk menghadirkan karya yang otentik.
Kolaborasi ini juga mencerminkan praktik ta’awun (saling menolong) dalam kebaikan. Seperti firman Allah dalam QS. Al-Ma’idah (5): 2, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” Sinergi LPOI dan SASNU menjadi implementasi nyata ayat ini di ranah keilmuan. Hasilnya adalah produk intelektual yang lahir dari proses yang berkah, sehingga diharapkan manfaatnya mengalir luas bagi umat.
Ketersediaan 11 jilid buku ini seharusnya diikuti dengan kebijakan pengintegrasian ke dalam kurikulum pendidikan, baik di lingkungan pesantren (madrasah/diniyah), sekolah umum, maupun perguruan tinggi. Materi sejarah Islam Nusantara yang kaya akan nilai-nilai toleransi, akulturasi budaya, dan diplomasi damai sangat relevan untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, PKN, dan Sejarah Indonesia. Guru dan dosen kini memiliki referensi standar yang terpercaya untuk menggantikan narasi yang dangkal atau bias.
Dalam konteks kebangsaan, pemahaman sejarah yang bersama (shared history) adalah perekat keberagaman. Mengetahui bahwa Islam di Nusantara tumbuh melalui dialog dengan budaya Hindu-Buddha, tradisi lokal, dan bahkan kontak dengan Barat, membangun narasi bahwa ke-Indonesiaan dan ke-Islaman tidak kontradiktif. Narasi ini sangat vital di era di mana isu SARA mudah dimanfaatkan untuk kepentingan politik pragmatis. Sejarah menjadi cermin untuk melihat siapa kita sebenarnya.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Imam Bukhari, “Khairunnasi anfa’uhum linnas” (Khair manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain). Para penulis, editor, dan pendanai buku ini telah mengamalkan hadis tersebut dengan menghasilkan karya yang manfaatnya abadi (sadaqah jariyah). Setiap santri, pelajar, dan peneliti yang membaca buku ini dan mengamalkan hikmah di dalamnya, menjadi bagian dari rantai kebaikan yang tak terputus. Inilah investasi paling mulia untuk masa depan bangsa.
Peluncuran buku hanyalah titik awal; tantangan nyata adalah bagaimana memastikan buku-buku ini terbaca, dikaji, dan dijadikan landasan pemikiran serta tindakan. LPOI dan SASNU perlu menggelar roadshow ke berbagai pesantren, universitas, dan komunitas literasi untuk mensosialisasikan isi buku. Program “Santri Membaca Sejarah” atau kompetisi esai berbasis 11 jilid ini bisa menjadi gerakan literasi yang menggelegar. Digitalisasi isi buku ke dalam platform akses terbuka (open access) juga perlu dieksplorasi agar menjangkau diaspora dan peneliti global.
Pemerintah melalui Kemendikbudristek dan Kemenag diharapkan memberikan apresiasi konkret, misalnya dengan membeli hak cipta untuk didistribusikan ke perpustakaan sekolah dan madrasah se-Indonesia. Investasi pada buku sejarah adalah investasi pada karakter bangsa. Seorang tokoh pendidikan pernah berkata, “Bangsa yang tidak kenal sejarah, bagaikan pohon tanpa akar.” Karya ini memperkuat akar kita agar tegak menghadapi angin badai zaman.
Mari kita sambut kelahiran 11 jilid ini tidak hanya dengan tepuk tangan, tetapi dengan komitmen membaca, mempelajari, dan mewariskan semangat pencarian kebenaran kepada generasi penerus. Sejarah bukan barang antik di museum, melainkan kompas yang menunjuk arah masa depan.
Kelahiran 11 jilid buku sejarah Islam Nusantara oleh LPOI dan SASNU menandai titik balik dalam upaya pemulihan memori kolektif bangsa. Karya ini membuktikan bahwa tradisi pesantren mampu beradaptasi dengan standar akademik modern tanpa kehilangan rohaniatnya. Lebih dari sekadar buku, ini adalah amanah intelektual untuk menjaga identitas di tengah hiruk pikuk modernitas.
Sebagai penerus peradaban, tugas kita adalah mengubah halaman-halaman sejarah tersebut menjadi pedoman hidup: bertoleransi seperti para wali, berilmu seperti para kyai, dan berjiwa patriotik seperti para santri pejuang 1945. Semoga karya monumental ini menjadi sumber cahaya ilmu yang abadi manfaatnya. Aamiin.