Kurikulum Merdeka membawa paradigma baru dalam dunia pendidikan Indonesia, di mana asesmen tidak lagi berfungsi sebagai alat penentuan kelulusan semata, melainkan sebagai instrumen pemetaan kompetensi untuk perbaikan pembelajaran. Penggantian Ujian Nasional (UN) dengan Asesmen Nasional (AN) dan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) menandai pergeseran fokus dari hafalan materi ke penguasaan literasi dan numerasi. Bagi peserta didik jenjang SMP, mata pelajaran Bahasa Indonesia menjadi landasan utama dalam mengukur kemampuan literasi membaca yang kritis, kreatif, dan kolaboratif.
Banyak orang tua dan peserta didik yang merasa cemas menghadapi perubahan ini karena kebiasaan soal berbasis pengetahuan faktual (recall) sudah tidak relevan. Soal AKM Bahasa Indonesia menuntut siswa mampu memahami teks kompleks, menarik inferensi, mengevaluasi argumen, serta mengintegrasikan informasi dari berbagai sumber. Oleh karena itu, pemahaman mendalam mengenai struktur dan karakter soal menjadi fondasi utama sebelum memasuki ruang ujian.
AKM Bahasa Indonesia dirancang untuk mengukur kemampuan literasi membaca yang mencakup tiga domain kognitif utama: mencari informasi (accessing), memahami dan menginterpretasi (integrating/interpreting), serta merefleksi dan mengevaluasi (reflecting/evaluating). Berbeda dengan ujian konvensional yang sering kali mengandalkan satu buku paket, stimulus soal AKM bersumber dari teks non-fiksi (artikel opini, laporan, infografik, grafik) dan teks fiksi (cerpen, puisi, drama) yang kontekstual dan aktual.
Setiap butir soal dikaitkan dengan Capaian Pembelajaran (CP) pada Fase D (SMP Kelas 7-9) yang mencakup elemen-elemen seperti menentukan ide pokok, makna kata/kata dalam konteks, tujuan penulis, hingga menilai keandalan argumen. Guru di sekolah seharusnya telah melakukan pemetaan CP ini ke dalam Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) agar siswa terbiasa dengan tipe-tipe kognitif tersebut sejak proses pembelajaran di kelas berlangsung.
Penting untuk dicatat bahwa AKM tidak menguji pengetahuan tata bahasa formal secara terpisah (misalnya: membedakan frasa dan klausa), melainkan menguji pemahaman tata bahasa secara implisit dalam konteks pemakaian bahasa nyata. Oleh karena itu, belajar menghafal definisi istilah linguistik kurang efektif dibandingkan latihan membaca teks bermakna dan menjawab pertanyaan pemahaman yang mendalam.
Karakteristik paling menonjol dari soal AKM adalah adanya stimulus yang panjang dan beragam formatnya. Siswa dihadapkan pada teks panjang, gabungan teks dan grafik, atau bahkan perbandingan dua teks dengan perspektif berbeda (multiple texts). Kemampuan “skimming” (membaca cepat untuk ide utama) dan “scanning” (mencari informasi spesifik) menjadi *survival skill* yang wajib dikuasai agar waktu pengerjaan 120 menit untuk 30-35 butir soal terpenuhi.
Soal bersifat Higher Order Thinking Skills (HOTS) di mana siswa diminta tidak hanya menjawab “apa yang tertulis”, tetapi “mengapa penulis menulis demikian”, “bagaimana bukti mendukung argumen”, atau “apa implikasi teks bagi masyarakat”. Contohnya, siswa diberikan dua artikel opini pro-kontra tentang “Penggunaan AI di Sekolah” dan diminta menilai kekuatan argumen masing-masing penulis. Latihan soal model TKA (Tes Kemampuan Akademik) atau AKM dari tahun-tahun sebelumnya sangat membantu membiasakan otak dengan pola berpikir kritis ini.
Selain itu, kosakata kontekstual (academic vocabulary) sering diuji melalui pertanyaan “Makna kata X dalam konteks paragraf ke-3 paling dekat dengan…”. Siswa yang terbiasa membaca koran, jurnal ilmiah populer, atau artikel opini akan lebih mudah menebak makna kata sulit dari konteks kalimat sekitarnya (context clues) dibandingkan siswa yang hanya mengandalkan kamus.
Persiapan mandiri yang paling fundamental adalah membangun kebiasaan membaca (reading habit) minimal 15-30 menit setiap hari dengan bahan bacaan yang bervariasi: novel, majalah ilmiah, berita online kredibel, hingga infografik data statistik. Variasi genre ini melatih kelincahan kognitif beralih dari struktur naratif (fiksi) ke struktur ekspositori/argumentatif (non-fiksi). Orang tua dapat mendukung dengan menyediakan akses perpustakaan digital atau berlangganan media berita berkualitas di rumah.
Teknik “Think-Aloud” atau berbicara sambil berpikir saat membaca bersama orang tua atau teman sebaya terbukti efektif. Misalnya, setelah membaca satu paragraf, siswa ditanya: “Apa ide utamanya? Kalimat mana yang jadi buktinya? Apakah kamu setuju dengan pendapat penulis? Mengapa?”. Aktivitas ini melatih metakognisi—kemampuan memonitor pemahaman diri sendiri—yang merupakan inti dari literasi tinggi.
Manajemen waktu dan kesehatan mental tak kalah penting. Lakukan simulasi ujian *full-set* menggunakan *timer* agar siswa terbiasa dengan tekanan waktu. Jika tersangkut soal sulit, latih untuk *flagging* (menandai) dan lanjut ke soal lain, lalu kembali di menit-menit akhir. Pastikan pola tidur dan nutrisi terpenuhi minggu sebelum ujian, karena kelelahan kognitif drastis menurunkan performa literasi yang butuh konsentrasi tinggi.
Pemerintah menyediakan *item bank* soal AKM resmi melalui Platform Merdeka Mengajar (PMM) dan aplikasi ANBK/AN yang dapat diakses gratis oleh guru dan siswa. Bank soal ini adalah representasi paling akurat dari kerangka asesmen (assessment framework) yang digunakan. Guru sebaiknya mengintegrasikan soal-soal ini ke dalam Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) atau kuis formatif mingguan, bukan hanya mengerjakannya seminggu sebelum ujian.
Di sisi lain, buku teks (Buku Paket) Kurikulum Merdeka edisi terbaru sudah dirancang dengan aktivitas literasi yang sejalan dengan AKM. Namun, pembelajaran tidak boleh berhenti di buku teks. Dorong siswa untuk membaca “Buku Non-TeKS” seperti ensiklopedia remaja, biografi tokoh inspiratif, atau laporan investigasi jurnalistik. Kementerian Pendidikan Kebudayaan melalui program Gerakan Literasi Nasional (GLN) telah mendistribusikan jutaan judul buku fiksi dan non-fiksi berkualitas ke perpustakaan sekolah—manfaatkan sepenuhnya.
Platform belajar daring seperti Ruangguru, Zenius, atau Quipper kini juga menyediakan paket latihan AKM spesifik dengan pembahasan video. Pilih platform yang menyediakan *feedback* detail per butir soal (mengapa jawaban A salah, kenapa B benar), bukan hanya skor akhir. Analisis kesalahan (error analysis) ini adalah cara paling cepat menaikkan skor dibandingkan sekadar mengerjakan ribuan soal tanpa refleksi.
Menghadapi asesmen dengan sikap positif dan siap sedia adalah wujud nyata dari semangat mencari ilmu yang diamanatkan dalam ajaran Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Alaq ayat 1-5 yang artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” Ayat ini menegaskan bahwa membaca dan belajar adalah perintah ilahi serta sarana pengetahuan yang dilimpahkan-Nya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ” (Artinya: “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.” HR. Muslim). Proses belajar memahami teks, berfikir kritis, dan menjawab soal asesmen adalah bagian dari “menempuh jalan mencari ilmu” yang balasannya dilebarkan-Nya.
Oleh karena itu, jadikan persiapan asesmen bukan sebagai beban yang menakutkan, melainkan kesempatan untuk mengasah akal, memperluas wawasan, dan mendekatkan diri pada Allah melalui ilmu yang bermanfaat. Dengan strategi yang tepat, dukungan lingkungan, dan tawakal setelah ikhtiar maksimal, insya Allah setiap peserta didik SMP mampu menuntaskan Asesmen Bahasa Indonesia Kurikulum Merdeka dengan hasil terbaik sesuai potensi diri masing-masing.