Di tengah gemerlapnya sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Nusantara, nama Sunan Giri bersinar sebagai tokoh yang memiliki peran ganda yang sangat vital: sebagai pendidik yang membangun generasi ulama dan sebagai dai yang mengantar dakwah melintasi lautan hingga ke ujung timur kepulauan ini. Lahir dengan nama Raden Paku, ia adalah putra Sunan Ampel dan putri Raja Blambangan, menempatkannya dalam garis keturunan yang kaya akan otoritas spiritual dan politik. Kisah hidupnya bukan sekadar biografi tokoh suci, melainkan blueprint bagaimana Islam diindonesiakannya melalui pendidikan karakter dan pendekatan kultural yang mapan.
Warisan Sunan Giri terasa sangat relevan hingga kini, terutama dalam konteks penguatan pendidikan karakter dan moderasi beragama. Ia membuktikan bahwa dakwah yang efektif tidak selalu bersifat konfrontatif, melainkan melalui penyemai nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Mari kita telusuri lebih dalam jejak langkah sang “Sultan Pendidikan” ini yang telah mengukir namanya di sejarah kepulauan.
Raden Paku lahir di sekitar tahun 1442 M di Palembang, Sumatera Selatan, dari pernikahan Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Malaka, putri Raja Blambangan. Kelahiran di luar Pulau Jawa justru menjadi provisi awal baginya untuk memahami keberagaman budaya sejak dini. Ketika berusia cukup dewasa, ia dikembalikan ke Surabaya untuk belajar langsung kepada ayahnya, Sunan Ampel, di Pesantren Ampel Denta. Di sinilah jiwa keilmuan dan keteladanan dibentuk secara intensif di bawah bimbingan salah satu arsitek utama Wali Songo.
Proses pendidikan di Ampel Denta tidak hanya berfokus pada hafalan Al-Quran dan kitabs kuning, tetapi juga melatih kemandirian, tata krama, serta keterampilan hidup. Sunan Ampel menanamkan pemahaman bahwa ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah. Fondasi inilah yang kemudian dibawa Raden Paku saat ia pergi ke Gunung Giri, Kediri, untuk mengisolasi diri (khalwat) dan mendalami ilmu tasawuf serta hikmah. Masa khalwat ini mematangkan spiritualitasnya, menyiapkannya menjadi khalifah ayahnya di wilayah Gresik.
Setelah merasa cukup, ia mendirikan pesantren di Bukit Giri, Gresik, yang kemudian dikenal sebagai Giri Kedaton. Lokasi yang strategis di pesisir utara Jawa memungkinkan pesantren ini berkembang pesat menjadi pusat gravitasi ilmu dan politik. Para santri tidak hanya datang dari Jawa, tetapi juga dari Madura, Kalimantan, Sulawesi, hingga Maluku. Inilah awal mula jaringan dakwah yang nantinya akan meluas ke Indonesia Timur.
Giri Kedaton bukan sekadar pondok pesantren biasa; ia berfungsi layaknya sebuah universitas Islam komprehensif dengan kurikulum yang terstruktur. Sunan Giri menerapkan sistem pendidikan berlapis: mulai dari tahap Ibtidaiyah (dasar), Tsanawiyah (menengah), hingga Aliyah (atas). Mata pelajaran mencakup Ilmu Nahwu Sharaf, Fiqih, Tafsir, Hadis, Tasawuf, hingga Ilmu Falak (astronomi) dan Ilmu Perahu (navigasi). Pengajaran ilmu navigasi dan astronomi sangat krusial karena mayoritas santrinya berasal dari kalangan nelayan dan pedagang laut.
Kecemerlangan metode pengajaran Sunan Giri tercermin dalam konsep “Manunggaling Kawula Gusti” (persatuan hamba dan Tuhan) yang dipadukan dengan kearifan lokal Jawa. Ia menggunakan media seni budaya seperti Wayang Kulit, Gamelan, dan Tembang Macapat sebagai sarana dakwah dan pendidikan karakter. Melalui medium ini, nilai-nilai tauhid, akhlak mulia, dan keadilan sosial disampaikan dalam bahasa yang mudah dicerna oleh masyarakat awam. Pendekatan budaya ini adalah implementasi nyata dari hadis Nabi Muhammad SAW: “Bashshiru wa la tunaffiru, wa yassiru wa la tu’assiru” (Berilah kabar gembira dan jangan berikan kabar buruk, mudahkanlah dan jangan sulitkan).
Lulusan Giri Kedaton tidak hanya menjadi ulama, tetapi juga menjadi pemimpin masyarakat, penasehat raja, hingga komandan pasukan laut. Tokoh-tokoh besar seperti Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, Raden Patah (pendiri Kesultanan Demak), dan Sultan Trenggono (raja Demak ke-3) semuanya pernah menuntut ilmu di sana. Bahkan, sistem tata kelola negara Kesultanan Demak banyak terinspirasi dari tata kelola santri di Giri. Ini membuktikan bahwa output pendidikan Sunan Giri memiliki dampak sistemik bagi peradaban Nusantara.
Keunikan Sunan Giri dibandingkan Wali Songo lainnya terletak pada jangkauan geografis dakwahnya yang melampaui Pulau Jawa. Memanfaatkan jaringan alumni santrinya yang tersebar di pelabuhan-pelabuhan utama dan keahlian ilmu navigasi yang diajarkan di pesantren, Sunan Giri mengirimkan para khalifah dan santri seniornya ke wilayah timur. Mereka membawa Islam ke Madura, Bawean, Kangean, hingga kepulauan Sulawesi (Makassar, Bone, Gowa), Maluku (Ternate, Tidore, Ambon), dan Nusa Tenggara.
Salah satu strategi briliannya adalah mengislamkan para nakhoda dan pedagang yang kemudian menjadi agen dakwah alami di setiap singgahan perahu mereka. Dakwah dilakukan melalui jalur perdagangan, perkawinan, dan asimilasi budaya, bukan melalui kekuatan militer. Catatan sejarah menyebutkan bahwa Sunan Giri pernah mengirim utusan khusus ke Kerajaan Gowa-Tallo di Sulawesi Selatan, yang kemudian melahirkan tokoh-tokoh seperti Datu Ri Bandang dan Sultan Alauddin yang mengislamkan kerajaan mereka secara resmi pada awal abad ke-17.
Kesuksesan dakwah di Indonesia Timur ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah An-Nahl ayat 125: “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” Sunan Giri menerjemahkan ayat ini dengan membangun relasi antarmanusia yang didasarkan pada kepercayaan, kejujuran dalam berdagang, dan toleransi. Warisan ini terlihat hingga kini pada keberagaman suku dan budaya di Indonesia Timur yang hidup berdampingan harmonis di bawah payung keimanan.
Selain membangun institusi dan jaringan dakwah, Sunan Giri juga meninggalkan warisan intelektual berupa penulisan dan terjemahan kitab-kitab klasik ke dalam bahasa Jawa (Pegon). Karya-karyanya, seperti Kitab Mukhtasar (ringkasan fiqih), Tafsir Giri, dan berbagai Suluk (puisi tasawuf), menjadi referensi utama para santri di pulau Jawa hingga abad ke-19. Ia memperkaya khazanah sastra Islam Jawa dengan mengadaptasi metafisika tasawuf ke dalam simbol-simbol budaya lokal, seperti penggunaan istilah “Manunggaling Kawula Gusti” yang akarnya dari konsep Fana fi Allah dan Baqa bi Allah.
Kontribusi Sunan Giri dalam pengembangan aksara Pegon (menulis bahasa Jawa dengan huruf Arab) sangat masif. Ia mendorong santri-santrinya untuk menulis catatan kuliah (kitab kuning) menggunakan Pegon agar ilmu mudah diakses oleh masyarakat pribumi yang belum menguasai bahasa Arab. Gerakan literasi ini melahirkan tradisi “Soran” (membaca kitab berjamaah) yang hingga kini menjadi ciri khas pesantren tradisional di Jawa Timur dan Madura. Tradisi ini memastikan rantai sanad (transmisi ilmu) tidak terputus dari generasi ke generasi.
Dalam konteks pendidikan modern, metode Sunan Giri yang mengintegrasikan ilmu naqliyah (wahyu) dan aqliyah (akal/budi daya), serta memadukan teks (kitab) dengan konteks (kehidupan masyarakat), menjadi model yang patut diteladani. Ia menunjukkan bahwa Islam tidak anti sains dan budaya, justru mendorong penguasaan keduanya untuk kemaslahatan umat. Hal ini menjawab tantangan zaman sekarang tentang relevansi pendidikan Islam di era Society 5.0.
Sunan Giri adalah teladan nyata Islam Nusantara yang wasathiyah (moderat). Ia tidak pernah memaksakan keagamaan dengan kekerasan, melainkan menawarkan keindahan Islam melalui akhlak terpuji. Kisahnya yang terkenal adalah ketika ia berhasil mengubah hati para pencuri dan preman di sekitar Giri menjadi santri-santri saleh hanya dengan kebaikan dan kesabaran, tanpa hukuman fisik. Pendekatan humanis ini mencerminkan sifat Nabi Muhammad SAW sebagai Rahmatan lil ‘Alamin (rahmat untuk seluruh alam).
Dalam tata kelola pesantren, Sunan Giri menerapkan prinsip musyawarah dan deliberasi. Santri diajarkan untuk berpendapat, bertanya, dan berpikir kritis (ijtihad) dalam batas kerangka syariat. Ia melarang fanatisme madzhab yang buta dan mengajarkan toleransi antar madzhab (Syafi’i, Hanafi, Maliki, Hanbali). Semangat anti-radikalisme ini tertanam kuat dalam DNA santri Giri, sehingga hingga sekarang pesantren-pesantren turunan Giri (seperti Giri Amanah, Giri Yasin, dll) dikenal sebagai bastion Islam moderat dan nasionalis.
Relevansi nilai-nilai ini sangat darurat di era digital di mana radikalisme dan intoleransi mudah menyebar melalui media sosial. Mengkaji pemikiran Sunan Giri berarti mengkaji bagaimana membangun karakter Muslim yang beriman kuat, berilmu luas, berakhlak mulia, dan cinta tanah air. Beliau meninggal dunia pada tahun 1506 M (beberapa sumber 1544 M) dan dimakamkan di kompleks Makam Sunan Giri, Gresik, yang hingga kini menjadi ziarah utama umat Muslim dari berbagai penjuru Nusantara.
Sunan Giri telah membuktikan bahwa kunci keberhasilan dakwah dan pembangunan peradaban terletak pada fondasi pendidikan yang kokoh, pendekatan budaya yang menghormati lokalitas, serta akhlak yang menjadi cerminan keindahan Islam. Beliau bukan sekadar tokoh sejarah yang dipuja-puja, melainkan inspirasi abadi bagi para pendidik, dai, dan pemimpin bangsa. Model “Giri Kedaton” sebagai pusat ilmu, dakwah, dan pemberdayaan ekonomi (melalui perdagangan laut) menawarkan paradigma pembangunan berbasis pesantren yang holistik.
Sebagai generasi penerus, kita dipanggil untuk melanjutkan estafetnya: membangun institusi pendidikan yang menghasilkan insan berkarakter, menyebarkan dakwah dengan hikmah dan keindahan hati, serta menjaga keutuhan NKRI dengan semangat ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah Wathaniyah. Marilah kita jadikan Sunan Giri sebagai kompas moral dan intelektual dalam menavigasi dinamika zaman, agar Islam di Nusantara terus berkembang sebagai rahmat bagi semesta alam. Wallahu a’lam bish-shawab.