Tanah Pasundan bukan hanya dikenal sebagai tempat lahirnya budaya Sunda yang kaya akan nilai-nilai luhur seperti silih asih, silih asah, silih asuh, tetapi juga sebagai salah satu gerbang masuknya Islam ke pulau Jawa. Sejarah masuk dan berkembangnya agama Islam di wilayah ini tidak lepas dari peran sentral para ulama yang memiliki ketabahan, hikmah, dan kecerdasan budaya yang luar biasa. Mereka tidak sekadar menyebarkan ajaran ritual, tetapi menanamkan nilai-nilai Islam ke dalam jati diri masyarakat Sunda. Kisah perjuangan mereka menjadi bukti nyata bagaimana dakwah bisa berjalan damai dan diterima oleh lapisan masyarakat luas.
Berbeda dengan narasi penetrasi budaya yang seringkali konfrontatif di tempat lain, para ulama Sunda memilih jalur wisdom (kebijaksanaan) dengan memanfaatkan kearifan lokal sebagai jembatan. Pendekatan ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah An-Nahl ayat 125 yang bermakna: “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” Ayat ini menjadi landasan metodologis para pendakwah Nusantara, termasuk di Pasundan, untuk menyampaikan kebenaran tanpa menghancurkan identitas budaya pendudunya. Melalui pendekatan itulah, Islam tumbuh subur dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari warga Sunda.
Tokoh paling ikonik dalam sejarah Islamisasi Sunda adalah Sunan Gunung Jati, yang bernama asli Syarif Hidayatullah. Beliau adalah salah satu anggota Wali Songo yang memiliki peran ganda: sebagai ulama penyebar agama dan sekaligus penguasa politik sebagai Sultan Cirebon. Keunikan Sunan Gunung Jati terletak pada kemampuannya mengintegrasikan struktur keraton tradisional dengan nilai-nilai tata kelola Islam. Beliau mendirikan Keraton Pakungwati dan kemudian Keraton Kasepuhan yang menjadi pusat penyebaran Islam, pendidikan, serta perdagangan.
Strategi dakwah beliau sangat mengedepankan aspek ekonomi dan sosial. Dengan mengembangkan pelabuhan Cirebon sebagai pusat perdagangan internasional, beliau menarik kaum pedagang asing (Arab, Gujarat, Persia, Cina) yang banyak menganut Islam. Interaksi ekonomi ini secara alami membuka ruang dialog agama. Para ulama pun diajak berkumpul di keraton untuk mengajar, menulis kitabs, dan membesarkan santri. Warisan intelektualnya terlihat hingga kini melalui kitab-kitab klasik berbahasa Arab-Melayu dan Arab-Sunda yang menjadi referensi pondok pesantren di Jawa Barat.
Lebih dari sekadar penguasa, Sunan Gunung Jati menanamkan konsep “Ngaji” (belajar Al-Qur’an) sebagai kewajiban moral bagi seluruh lapisan masyarakat, dari bangsawan hingga rakyat biasa. Tradisi ini melahirkan generasi penerus dakwah yang kuat. Beliau wafat pada usia yang sangat lanjut (beberapa catatan menyebut 120 tahun), meninggalkan jejak sejarah bahwa kepemimpinan yang dibarengi kebijaksanaan agama mampu membangun peradaban yang adil dan makmur.
Melompat ke era yang lebih dekat, nama Kyai Haji Abdullah Sanusi (KH. Abdullah Sanusi) bersinar sebagai pembaharuan pendidikan Islam di Sunda. Beliau adalah pendiri Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso, Jombang, meskipun lahir di Garut, Jawa Barat. Perjuangannya mencerminkan semangat para ulama Sunda yang tidak pernah puas pada status quo. Beliau melihat perlunya integrasi antara ilmu keagamaan (naqli) dan ilmu umum (aqli) agar umat Islam tidak tertinggal di era kolonial dan pasca kolonial.
KH. Abdullah Sanusi memperkenalkan sistem madrasah dan kurikulum terstruktur di tengah tradisi sorogan dan bandongan yang konvensional. Beliau berpendapat bahwa hafalan Al-Qur’an dan penguasaan kitab kuning harus dibarengi dengan keterampilan hidup, bahasa asing, dan ilmu pengetahuan modern. Pemikiran ini selaras dengan hadis Nabi Muhammad SAW: “Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah). Hadis ini tidak membatasi jenis ilmu, melainkan mendorong umat untuk menguasai segala ilmu bermanfaat.
Dampak perjuangannya terasa hingga sekarang di mana ribuan lulusan pesantren modern menjadi kader ulama, pendidik, dan pemimpin bangsa. Beliau membuktikan bahwa identitas Sunda yang santun dan religius (ngaji, ngibadah, ngahoji) sangat kompatibel dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Warisan pemikiran KH. Abdullah Sanusi menjadi bukti bahwa Islam Sunda bersifat dinamis, adaptif, namun tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip syariat.
Sejarah Islam di Pasundan tidak lengkap tanpa menyebut peran perempuan. Meskipun sering tersembunyi di bayang-bayang tokoh laki-laki, para Nyai (istri kyai) dan ulama perempuan memiliki peran strategis dalam pendidikan keluarga dan pengajian perempuan. Tokoh seperti Nyai Ahmad Dahlan (Siti Walidah) yang mendirikan ‘Aisyiyah, meskipun beraktivitas di Yogyakarta, memiliki jaringan dakwah yang kuat ke wilayah Sunda melalui cabang-cabang Muhammadiyah. Di tingkat lokal, banyak Nyai yang mengelola pengajian putri dan TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur’an) yang menjadi benteng pertahanan moral generasi muda.
Dalam konteks kontemporer, tokoh seperti Buya Hj. Rohana Abdullah (meskipun beraktivitas luas di Sumatra, metodologinya mempengaruhi dakwah perempuan nasional) dan para pengasuh pesantren putri di Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis melanjutkan tradisi ini. Mereka mengajarkan bahwa Islam tidak mengurangi martabat perempuan, justru mengangkat derajatnya sebagai madrasatul ula (madrasah pertama) bagi anak-anak. Pendekatan ini sangat resonan dengan budaya Sunda yang menghormati peran ibu (nu ambu luhur wewengkonna).
Perjuangan ulama perempuan ini juga menjawab tantangan modern seperti radikalisme dan liberalisme berlebihan. Dengan pendekatan wasathiyah (moderasi), mereka mengajarkan Islam yang rahmatan lil alamin, toleran, dan berkebhinekaan. Ini adalah implementasi nyata dari QS. Al-Hujurat ayat 13: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling takwa di antara kamu.” Takwa di sini diartikan luas: taat beribadah, jujur berdagang, adil memimpin, dan bijak mendidik anak.
Satu keunikan dakwah ulama Sunda adalah pemanfaatan seni budaya sebagai media. Tembang Sunda, Degung, Angklung, hingga Pantun Sunda diisi dengan nilai-nilai tauhid dan akhlak mulia. Sunan Gunung Jati sendiri diketahui menggunakan Gamelan dan seni tari untuk menarik perhatian masyarakat sebelum menyampaikan khotbah. Metode ini disebut bil hikmah dalam terminologi modern—dakwah melalui kebaikan dan keindahan.
Bahasa Sunda dengan tata krama (basa lemes) yang penuh hormat menjadi alat yang efektif menyampaikan ajaran agama yang kadang kaku jika diterjemahkan harfiah dari bahasa Arab. Kitab-kitab seperti “Mukhtasar” atau “Fathul Qorib” diterjemahkan ke dalam Bahasa Sunda Pegon (Arab-Sunda) agar mudah dihayati santri dan masyarakat awam. Tradisi Ngaji Bagja (ngaji sambil makan kue bagja) atau Muludan (peringatan maulid Nabi) menjadi momen silaturahmi yang memperkuat ukhuwah Islamiyah di tingkat akar rumput.
Kearifan lokal ini kini menjadi studi kasus menarik bagi sosiolog dan antropolog agama. Bagaimana Islam bisa “disunda-kan” tanpa kehilangan esensi syariatnya? Jawabannya ada pada fleksibilitas urf (adat istiadat) dalam hukum Islam selama tidak bertentangan dengan nash dan maqashid syariah. Para ulama Sunda telah membuktikan bahwa Islam bersifat universal (syumul) dan sesuai untuk segala zaman dan tempat (shalih li kulli zaman wa makan).
Di era Society 5.0 saat ini, jejak perjuangan ulama Sunda semakin relevan. Tantangan dakwah bergeser dari analfabetisme Al-Qur’an ke analfabetisme digital dan krisis akhlak di media sosial. Semangat “ngaji” yang dulu dilakukan di surau atau langgar, kini harus diterjemahkan ke dalam konten-konten edukatif di YouTube, Podcast, Instagram, dan TikTok. Banyak kyai muda keturunan Sunda yang kini menjadi influencer dakwah dengan bahasa santai, humor Sunda khas, namun substansi ilmunya tetap dalam.
Pondok pesantren modern di Jawa Barat seperti Pesantren Cipasung, Pesantren Al-Ittifaqiah, hingga Pesantren Daarut Tauhiid, menjadi bukti nyata regenerasi pemikiran ulama Sunda. Mereka mengadopsi kurikulum nasional plus keagamaan, bahkan banyak yang bekerjasama dengan universitas luar negeri. Ini adalah manifestasi dari doa dan usaha para pendahulu agar umat Islam Sunda menjadi “Khalifah fil ardh” (Khalifah di bumi) yang berperan aktif membangun peradaban.
Kita sebagai generasi penerus memiliki kewajiban moral untuk tidak hanya mengingat nama-nama mereka, tetapi melanjutkan metodologi dakwah mereka: hikmah, berbudaya, berilmu, dan berakhlak mulia. Menulis dan membaca sejarah mereka bukan sekadar nostalgia, melainkan mengambil ibrah (pelajaran) untuk menavigasi badai zaman yang semakin kompleks.
Kisah perjuangan ulama Sunda dari Sunan Gunung Jati hingga kyai-kyai kontemporer adalah mozaik indah tentang bagaimana Islam diindonesiakan, disunda-kan, dan dijadikan rahmat bagi alam semesta. Mereka membuktikan bahwa agama dan budaya bukan lawan, melainkan pasangan harmonis yang saling memperkaya. Mari kita jaga warisan ini dengan cara terbaik: mengamalkan ilmu, menyebarkan kebaikan, dan menjaga persatuan dalam keberagaman. Wallahu a’lam bish-shawab.